Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Malang
 

Proses menyelesaikan skripsi, tidak hanya persoalan teknis metodologis, namun juga persoalan non teknis yaitu hubungan mahasiswa dengan pembimbingnya.

Demikian sambutan Ketua Jurusan Ikom  Frida Kusumastuti, M.Si dalam acara Pembekalan Skripsi untuk angkatan 2007-2008 di Aula BAU UMM (2/11). Pembekalan Skripsi yang diselenggarakan oleh PR Club UMM ini diikuti sekitar 164 orang. Hadir sebagai pembicara, selain Frida Kusumastuti, M.Si  juga Nurudin, M.Si , dan DR. Tri Sulistyoningsih.  .
 

Pembimbing juga manusia, kadang juga punya rasa jenuh membaca/mendiskusikan skripsi seperti halnya bimbingannya,“ Canda Frida lebih jauh.  Menurut Frida, berdasarkan pengalamannya sebagai pembimbing, paling tidak suka bila mendapatkan sms: Bu, saya taruh skripsi saya di meja ibu...tolong dikoreksi secepatnya yaa. Atau bila menghadapi bimbingan yang suka menjadi  ‘juru bicara’ dosen satu ke dosen yang lain.  Misal kepada pembimbing satu bilang:  “bu, saya sudah ke  bapak X (pembimbing lain), beliau minta begini begitu bla..bla..”. “Setiap dosen ingin menjajaki pemahaman mahasiswanya, bukan sebagai penterjemah pemahaman dosen satu atas yang lain.” Demikian Frida mengaku.

Menjawab pertanyaan peserta tentang bagaimana menghadapi dua pembimbing yang berbeda pandangan, Frida memaparkan bahwa pembimbing bertugas mengarahkan, sebagai teman diskusi, dan memberi alternatif pandangan. Keputusan tetap ada pada mahasiswa karena nanti yang harus mempertanggung jawabkan hasil skripsi adalah mahasiswa, bukan pembimbingnya. Bila dua pembimbing berbeda pandangan, ambil yang paling anda pahami dan pertahankan itu pada pembimbing yang lain dengan cara yang meyakinkan. “Kalian harus lebih PeDe karena tentu lebih menguasai  persoalan yang diangkat daripada dosennya. Mengapa?. Kalian hanya fokus pada satu persoalan skripsi anda, sementara pembimbing harus melihat banyak fokus persoalan dari para bimbingannya yang jumlahnya puluhan lhoooo.

Menarik saat para pemateri mencoba menjajaki rencana penelitian mahasiswa Jurusan Ikom. Sebagian besar peserta mengaku merencanakan penelitian kwalitatif, sementara yang mengaku merencanakan penelitian kwantitatif hanya sekitar 20%. “Saya tahu, kalian yang memilih kwalitatif karena merasa tidak berani dengan statistik.” Tebak Tri Sulistyoningsih yang disambut Gerrrrr oleh peserta. “Pilihlah metode sesuai dengan rumusan masalah penelitian kalian.” Lebih jauh Tri menyampaikan bahwa penelitian kwantitatif itu  ribet di depan saat perencanaan. Terutama dalam memilih teori, definisi variabel, hipotesis, penentuan populasi-sampel, dan instrumen penelitiannya. Sementara penelitian kwalitatif akan ribet di lapangan. Tidak cukup hanya sekali dua kali menemui subjek penelitiannya. Terus pada saat menyusun laporan, penelitian kwalitatif juga memerlukan perhatian yang lebih.

Nurudin yang lebih banyak menjelaskan tentang penulisan skripsi  mengingatkan bahwa menulis skripsi adalah penulisan ilmiah. Oleh karena itu tata baku penulisan ilmiah musti menjadi perhatian mahasiswa. Namun begitu, Nurudin memotivasi peserta untuk menghasilkan skripsi yang baik supaya hasil skripsinya bisa juga ditulis dalam Jurnal Ilmiah sehingga mahasiswa memiliki portofolio sebagai penulis. “Bila perlu hasil skripsi itu nanti bisa diterbitkan sebagai buku.” Tantang Nurudin yang juga Sekretaris Jurusan Ikom.

Para peserta nampak antusias  menyimak dan merespon  pemaparan para pemateri. Apalagi panitia juga menyediakan beberapa door prize bagi peserta yang aktif.

Kami akan merencanakan acara serupa dengan topik-topik yang menarik. Terutama hal-hal yang memang diperlukan oleh mahasiswa yang sedang memrogram skripsi. Tunggu saja. Ikuti terus info-info baru di akun fesbuk PR Club UMM.” Janji M. Kohar, direktur PR Club UMM saat ini.

Samsul Bahri selaku Ketua Pelaksana  berharap dengan adanya pembekalan ini, dirinya maupun peserta menjadi lebih semangat dan memiliki motivasi kuat untuk segera menyelesaikan skripsi. (nonk

 

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image