Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Malang
Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Malang

Prodi Ilmu Komunikasi Tetap Bersaing

Author : Administrator | Rabu, 07 November 2012 13:24 WIB
 

 

Minat calon mahasiswa baru untuk mendaftar di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM tak surut. Hal ini terbukti dengan tetap terpenuhinya jumlah kuota penerimaan Maba Ikom. Meski persaingan ketat terjadi di Jurusan Ilmu Komunikasi sejumlah universitas di Malang, namun Ilmu Komunikasi UMM masih mendapat tempat di hati calon maba. Berikut liputannya.

Meski tengah menjalankan puasa Ramadhan, antusiasme ribuan calon mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang untuk mendaftar dan mengikuti ujian masuk tak lantas surut. Seakan tak ingin kalah dengan PTN-PTN yang ada di kota Malang, hampir semua jurusan yang ada di UMM kehabisan kursi, tidak terkecuali Ilmu Komunikasi. Tak kurang dari 240 Maba Ilmu Komunikasi antusias memilih jurusan ini. Meski tahun ini jumlah pendaftar Ilmu Komunikasi mengalami sedikit penurunan, namun jumlah kuota penerimaan maba Ikom UMM tetap terpenuhi.

            Bisa dibilang, Ilmu Komunikasi adalah salah satu jurusan favorit di Universitas Muhammadiyah Malang. Di setiap tahunnya, Ikom tak pernah mengalami kekurangan mahasiswa. Hal ini terbukti dengan selalu terpenuhinya kuota yang disediakan. Selain itu, prestasi-prestasi yang telah ditorehkan oleh mahasiswa maupun dosen Ikom menjadi satu poin plus bagi eksistensi jurusan. Menurut salah salah satu calon maba Ikom, Dewi Mashita (18), jurusan ini memang memiliki kualitas yang bagus. “Saya memilih jurusan Ilmu Komunikasi karena di Jawa Timur Ikom UMM sudah diakui sebagai salah satu jurusan yang terbaik,” ungkap Dewi.

            Meski tahun ini jumlah peminat sedikit mengalami penurunan jika dibandingkan tahun lalu, namun menurut Frida Kusumastuti, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UMM, naik turunnya jumlah peminat adalah hal biasa yang terjadi setiap tahun. Salah satu pemicunya adalah persaingan antar jurusan maupun antar universitas terutama PTN. Dengan dibukanya  jurusan Ilmu Komunikasi di PTN di Kota Malang membuat persaingan semakin ketat. Tidak heran, jika PTN memang lebih dipilih oleh siswa-siswa lulusan SMU. Hal tersebut karena mindset yang sudah melekat pada PTN. “Menurut saya, mereka memilih PTN itu wajar, karena  paradigma masyarakat tentang PTN selama ini selalu baik,” tutur Frida. Ia juga menambahkan banyaknya jalur penerimaan yang dibuka PTN dan dapat dilewati dengan tidak begitu ketat oleh pendaftar PTN menjadi titik poin yang membuat persaingan tersebut makin ketat.

            Selain itu, kurangnya pemahaman tentang perbedaan antara Ilmu Komunikasi dan Teknik informatika (IT) membuat para orang tua dan maba lebih cenderung memilih IT. Mereka menganggap jika memilih IT sama saja seperti memilih jurusan Ikom. Jumlah pendaftar memang berkurang karena Ikom bersaing dengan IT dan banyak orang tua dan calon maba yang menganggap IT dan Ikom itu sama,” ujar Frida.     Dengan kata lain, persaingan untuk menarik perhatian siswa-siswa lulusan SMU tidak terjadi antar jurusan saja, tetapi juga antar  universitas. Hal ini sebenarnya wajar-wajar saja, karena tujuannya sama yaitu ingin mencerdaskan anak bangsa.

            Persaingan dalam menarik minat para siswa-siswa untuk memilih jurusan di perguruan tinggi memang wajar adanya. Hal ini sebagai pemacu semangat, agar setiap jurusan maupun universitas berlomba-lomba memberikan yang terbaik bagi mahasiswanya. Baik itu dari segi pembelajaran maupun fasilitasnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Ikom UMM Gencarnya jalur masuk yang ditawarkan oleh PTN tidak membuat Ikom UMM berkecil hati. Menurut Frida, masyarakat lambat laun akan mengerti sendiri dan menilai mana jurusan yang memiliki kualitas lebih baik. Pengakuan tersebut salah satunya diungkapkan oleh maba Ikom UMM. Salah satu maba, Dewi Mashita mengaku meski ia sudah diterima di PTN melalui jalur SNMPTN namun ia memantapkan hati untuk memilih jurusan Ikom di UMM. “Saya sebenarnya diterima di jurusan agroteknologi salah satu PTN di Malang melalui jalur SNMPTN, tapi tidak saya ambil karena saya rasa Ikom UMM lebih baik”, tutur Dewi Mashita..

            Jurusan yang kini berusia 25 tahun ini terus berusaha memberikan yang terbaik. Mulai dari pelayanan yang terbaik hingga adanya program-program unggulan yang akan membantu mahasiswa dalam proses belajar dan mengembangkan bakat. Selain itu, fasilitas-fasilitas yang ada yang selalu ditingkatkan. Salah satu maba Ikom, Danang, mengaku tertarik untuk kuliah di Ikom UMM karena fasilitas laboratorium audio visualnya yang lengkap. “Untuk meningkatkan kualitas layanan, tentunya jurusan akan memastikan perkuliahan dan praktikum berjalan dengan baik serta bermutu. Begitu juga pembinaan kemahasiswaan yang kreatif dan integratif”, ujar Frida.

            Untuk mempertahankan eksistensi Ikom UMM, jurusan telah menyiapkan beberapa program unggulan. Program-program ini bertujuan untuk terus meningkatkan mutu dan kualitas para mahasiswanya. Program-program tersebut adalah penciptaan atmosfer akademik yang kondusif melalui perkuliahan, praktikum, kegiatan kemahasiswaan, riset, pengabdian masyarakat, dan publikasi. Selain itu adalah mendorong dan memfasilitasi terbentuknya komunitas-komunitas mahasiswa berdasarkan peminatan. Saat ini di Ikom ada sejulah komunitas yang cukup diminati oleh mahasiswa Ikom seperti PR Club, Eskalator PR Community, AV Club, Komunikasi Cinta Riset (Kociris), 3pod, Airbrand, dan Jurnalistik Club. Semua ini juga dilakukan agar ikom tetap bisa bersaing dengan PTN maupun PTS yang ada di Malang maupun Jawa Timur.

Isu NII Tak Pengaruhi Antusiasme Maba

             Meski sejumlah pihak sempat mengkhawatirkan pemberitaan yang gencar tentang isu NII akan mempengaruhi jumlah calon mahasiswa yang mendaftar, kekhawatiran tersebut ternyata tak terbukti. “Kita kan hanya pihak korban, jadi saya rasa masalah NII tidak  mempengaruhi kuota yang disediakan oleh UMM,” ujar Abdullah Masmuh, Pembantu Dekan III UMM. Ia juga menambahkan, masalah itu tidak berdampak apapun untuk Ikom maupun jurusan lain.

Meski sempat menjadi isu yang mengkhawatirkan, akan tetapi semua itu ternyata tidak menjadi masalah untuk para pendaftar UMM. Untuk tahun ini, UMM menerima 7700 mahasiswa baru yang terseleksi dari 12.000 pendaftar. “Hasil evaluasi kami, hal tersebut tidak berpengaruh pada penerimaan maba,”ungkap Frida. Hal itu senada juga disampaikan oleh mahasiswa baru Ikom yang diwawacara acak. Dari wawancara acak tersebut, mereka mengaku tak terpengaruh atau merasa takut dengan pemberitaan terkait NII tersebut. (fj)

Sumber:
Communitacion Newsletter/Agustus 2011

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image