Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Malang
Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Malang

Media Dan Demokrasi

Penulis: Drs.Budi Suprapto, Ph.D

Sebagian besar masyarakat setuju bahwa demokrasi membutuhkan media berskala besar untuk menyelenggarakan komunikasi antara pemerintah dengan rakyatnya, antara elit dan non elit. Secara ideal memang dalam masyarakat demokrasi harus memiliki media yang bisa digunakan untuk menyediakan informasi publik dan berbagai proses dan hasil konsensus yang diperlukan masyarakat. Dengan media massa kontinuitas penyebaran informasi publik dapat dijaga lewat penyebaran informasi politik. Berbagai penelitian tentang difusi inovasi menunjukkan, bahwa dalam masyarakat yang sedang berkembang media berskala besar memang dibutuhkan, karena ternyata ia merupakan instrumen yang efisien untuk penyebaran informasi baru.

Menurut Rogers, media dapat mempengaruhi perubahan sikap berkenaan dengan inovasi. Tetapi hal itu dikritik oleh para pemikir kiri (kaum marxian), dengan menyatakan bahwa media massa hanyalah mendukung status quo atau idiologi penguasa. Ada tiga model keberlangsungan komunikasi politik antara elit pemerintah dengan non elit/masyarakat maupun komunikasi antar elemen-elemen utama yang ada dalam suatu masyarakat menurut Siune dan Kline. Ketiga hal itu adalah elit langsung berhubungan dengan primary group, dan bisa memperoleh umpan batik bersitat langsung. Kemudian elit dengan primary group berhubungan secara tidak langsung, yaitu melalui intermediate group yang dapat berupa partai politik, LSM, organisasi korporasi dan sebagamya. Jika jalur ini yang ditempuh, maka umpan baliknya juga tidak bisa langsung (delayed-feedback). Dan intensitas komunikasi justru lebih sering terjadi antara intermediate groups dengan primary group, jika diperbandingkan antara elit dan primery group.  Dan model ketiga adalah hubungan antara elit dan primary group menggunakan media massa berskala besar.

Konsekuensi dari model yang kedua adalah informasi dari pusat kekuasaan seringkali mengalami filterisasi oleh intermediate group sebelum sampai ke primary group. Untuk mengatasi itu  diperlukan media berskala besar yang mampu meminimalkan filter dan dapat langsung secara etektif menjangkau langsung dan diterima olen individu-individu dalam primary group. Demikian pula yang diperlukan oleh primary group tatkala ingin menyalurkan pesan-pesan dari dan ke pusat kekuasaan.

Keuntungan media berskala besar seperti televisi misalnya, adalah kemampuannya menyampaikan pesan secara simultan. Tetapi terkadang media massa hanyalah perangkat tambahan bagi struktur hubungan antar kelompok yang ada, dimana kekuatan media itu sendiri sebenarnya dikontrol secara terpusat. Fakta menunjukkan, bahwa dalam masyarakat pluralis media massa dapat memperkuat kelemahan-kelemahan dalam hubungan antar elemen dalam masyarakat. Di sinilah terjadi kombinasi antara struktur media dan mekanisme feet-back dalam masyarakat. Di berbagai belahan dunia, melalui cara-cara tertentu, struktur media massa ini telah menjadi komponen penting dalam upaya mencapai tujuan nasional.

Dalam kajian sistem politik, terdapat dua persoalan penting yaitu dimensi perilaku dan dimensi sikap. Sementara itu opini diletakkan sebagai ekspresi dari sikap, bukan ekspresi dari perilaku. Hovland dan Janis menggunakan istilah perubahan sikap untuk menjelaskan terjadinya internalisasi nilai-nilai pesan. Namun demikian perubahan suatu sikap dalam diri seseorang atau sekelompok orang, tak dapat diketahui tanpa mengamati perubahan pendapat atau perilaku yang bersangkutan. Dengan kata lain opini dan perialaku seseorang, secara psikologis dapat menjelaskan bagaimana sikap yang bersangkutan terhadap suatu obyek. Hal ini juga menjelaskan, bahwa secara konseptual antara sikap dan perilaku memang bisa saja dipisahkan, tetapi dalam wilayah praktek sosial keduanya hampir tidak bisa dipisahkan.

Penggunaan istilah perubahan dalam tindakan atau perilaku yang dapat diamati, sebagai bagian dari indikator terjadinya perubahan sikap adalah suatu contoh dari keyakinan akan adanya hubungan antara sikap dan perilaku. Persoalannya adalah apakah selalu bahwa perubahan sikap itu terjadi sebelum perubahan perilaku? Dan sebaliknya, apakah perubahan perilaku itu sealalu terjadi setelah atau merupakan hasil dari perubahan sikap? Menurut Katz (1960), jawabannya tidak selamanya demikian. Sedangkan McQuail menyatakan, bahwa bisa saja terjadi hubungan logis antara perubahan pengetahuan berpengaruh terhadap perubanan perilaku. 

Katz berkata, ada dua hal yang menentukan terbentuknya perilaku seseorang dalam suatu masyarakat. Ada beberapa hal yang mendasari hal tersebut, diantaranya adalah apa yang menjadi pusat perhatian. Hal ini banyak dikendalikan oleh pengalaman dan kehidupan sehari-hari seseorang. Berikutnya  adalah bentuk-bentuk respon terhadap tujuan. Penggunaan simbol-simbol yang lebih mengedepankan aspek-aspek sensasional adalah hal utama yang dapat mendorong terjadinya aktifitas perilaku massa. Sementara itu lingkungan keluarga, teman, pekerjaan, atau kelompok-kelompok sosial lain lebih mendorong pada perilaku untuk menuju kepada tujuan. Aktifitas penilaian terbentuk secara langsung tanpa perantara orang lain. Respon terhadap hal-hal yang demikian bersifat langsung dan segera.

Penyampaian simbol-simbol yang sensasional tersebut akan sangat cepat jika dilakukan oleh media massa. Jika yang dilakukan media massa tersebut bisa menggerakkan perilaku massa (mass behavior), itu merupakan efek media massa yang paling dahsyat. Banyak studi yang mengungkapkan tentang efektifitas media massa dalam menggerakkan perilaku massa. Yang paling terkenal dan menjadi klasik, di antaranya (Chaffee, 1975): studi tentang efek sandiwara radio yang menyiarkan lakon The invasion from Mars di tahun 1938; studi  program siaran radio tentang bahaya nuklir di Swedia pada thaun 1973; atau studi tentang  pesan-pesan persuasif yang disampaikan lewat media cetak dan elektronik untuk memberikan sumbangan guna penanggulangan musibah kemanusiaan dan lain-lain.

Dalam konteks hubungan antara elemen elit dan non-elit, kehadiran tehnologi komunikasi menjadi sangat diperlukan untuk menyebarkan informasi politik maupun mempercepat penyerapan informasi publik. Kennet Boulding meyakini, bahwa pertumbuhan tehnologi modern dan struktur pengetahuan masyarakat merupakan faktor dominan dalam proses politik di tengah masyarkat modern.

Shared: