Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Malang
Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Malang

Napi yang Nyaman di Penjara Dalam Penjara

Penulis : Winda Hardyanti, S.Sos, M.Si

September  lalu, saya mendapat kesempatan untuk short course tentang HAM di Universitetet I Oslo, Norwegia. Salah satu tujuan trip dalam short course adalah mengunjungi Ila Prison, tempat Breivik  teroris Oslo dipenjara. Saya membayangkan Ila Prison ini lazimnya penjara lain. Kelam, kumuh, dan padat penghuninya. Namanya saja penjara, pasti tempat untuk menghukum orang-orang jahat agar tidak melakukan kejahatan lagi. Istilah tersebut mungkin terlalu kejam, sehingga kini kita menyebutnya sebagai lapas atau lembaga permasyarakatan.

Di Ila Prison, bayangan kejam itu awalnya hanya terlihat dari pos penjagaan. Untuk bisa masuk ke dalam penjara, para pengunjung tak bisa begitu saja melenggang masuk tanpa syarat. Segala hal yang mengandung logam, termasuk jam tangan dan anting harus dilepas. Kami diijinkan masuk setelah melewati dua kali sensor pengawasan super ketat. Namun ternyata tidak ada jeruji besi yang menyeramkan di Ila Prison ini. Staf lapas mengantarkan kami ke bilik tempat tahanan ditahan. Wow!Ruangan seluas 2x3 meter tersebut tak pantas disebut sebagai ‘penjara’. Kasur tipis namun empuk, ruangan berlantai keramik  cukup bersih, meja kursi dan satu PC layar flat meski tanpa akses internet, cukup untuk menggambarkan kemewahan kamar penjara. Tak hanya itu, di sekitar bilik penjara  juga terdapat alat fitness,  dinning room, dan mini coffee shop. Belum lagi beberapa hektar perkebunan, minimarket dan klinik gigi dengan seperangkat dental chair yang terdapat di dalam kawasan penjara. Fantastis.

Hal yang ‘ganjil’ untuk sebuah konsep lapas itu tentu menarik rasa penasaran saya untuk bertanya pada sipir Ila Prison yang mengantar kami. Ketika saya bertanya mengapa Ila Prison menerapkan konsep seperti ini? . Sipir menjawab bahwa konsep lapas di Norwegia adalah rehabilitasi. Narapidana yang ditahan di Ila Prison benar-benar ‘dimanusiakan’ hingga masa hukumannya berakhir. Mereka tetap berhak mendapatkan pendidikan, ada kelas-kelas khusus untuk para narapidana ini. Namun mereka tak boleh menerima uang dari luar. Uang mereka dapatkan hanya dari upah bertanam di perkebunan dan bisa dibelanjakan di minimarket di kawasan lapas. Jumlahnya dibatasi, sekitar 30 krone per hari, setara dengan 60 ribu rupiah. Namun dengan sistem tersebut, tak ada satu pun narapidana yang berani kabur dari tahanan. Pernah ada salah seorang napi kabur, namun keesokan harinya napi tersebut kembali lagi. Sebab kehidupan di luar penjara jauh lebih sulit untuk orang-orang yang jobless. Biaya hidup di Norwegia terkenal cukup tinggi dibandingkan negara Eropa lainnya.

Saya jadi teringat kalimat Dr.Sahardjo,SH, mantan Menteri Hukum dan HAM, mengenai asal-usul kata pemasyarakatan. Dr Sahardjo mengatakan bahwa pidana penjara bertujuan untuk mendidik terpidana agar menjadi seorang anggota masyarakat Indonesia yang berguna. Tujuan pidana penjara adalah pemasyarakatan, atau treatment philosophy atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai resosialisasi atau rehabilitasi. Mungkin terlalu mahal jika kita melihat fasilitas di Ila Prison, namun konsep rehabilitasi yang arif tentu layak menjadi contoh bagi lembaga permasyarakatan di Indonesia.

 

*dimuat di Harian Surya, 4 Maret 2013

Shared: