Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Malang
Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Malang

Non Violence Communication

Penulis : Muhammad Himawan S, M.Si

Perkembangan permasalahan konflik di dunia mengalami fluktuasi yang sangat kuat. Data dari UCDP (Uppsala Conflict Data Program) menunjukkan pada tahun 2012 ada 32 konflik . konflik yang berlangsung dengan tipe antar Negara (interstate) sebanyak 1 konflik, dalam Negara sebanyak (intrastate) sebanyak 23 konflik, kemudian konflik dalam negara yang diinternasionalisasikan (internationalized intrastate) sebanyak 8 konflik.  Dengan memperhatikan tipe konflik yang muncul, menunjukkan bahwa konflik secara internal menjadi tren yang berkembang. Bahkan konflik internal tersebut kemudian bisa dikembangkan menjadi konflik yang dibawa ke ranah internasional.

Apapun alasannya konflik telah menjadi makanan sehari-hari manusia. Tetapi perkembangan konflik kemudian lebih meluas dengan berbagai penyebab. Dalam bentuk yang lain konflik telah juga muncul dari konflik antar bangsa sebagaimana antara Armenia dan Azerbaijan. Konflik dalam negeri menjadi bagian menonjol.  Hal ini menarik karena perkembangan konflik bukan lagi antar Negara tetapi di dalam Negara itu sendiri.

Perkembangan demokrasi yang terus menerus, bukan saja menjadi harapan baik dalam sebuah negara tetapi juga sebaliknya. Disamping menjamin setiap orang untuk bebas berekspresi kebebasan untuk beragama, kebebasan untuk memilih. Disisi lain para penentang demokrasi juga menunggangi (free rider)demokrasi sebagai proses untuk menegakkan fasisme. Memang, dalam daftar UCDP Indonesia tidak termasuk dalam salah satu Negara yang berkonflik baik antar Negara atau dalam Negara. Tetapi kondisi demokrasi yang masih lemah dan belum kuat, bisa membuka peluang lahirnya konflik internal.

Media dalam Demokrasi

Indonesia telah masuk dalam proses demokrasi. Dalam hal ini demokrasi masih membutuhkan konsolidasi dari berbagai macam elemen. Termasuk didalamnya adalah media massa. Selama ini media massa selalu dianggap sebagai salah satu pilar demokrasi. Tetapi pertanyaan besar kemudian muncul ketika media kemudian juga terjebak dalam kepentingan sesaat baik individu atau kelompok. Ambilah contoh bagaimana CNN kemudian menjadi corong Amerika Serikat dalam mengembangkan propaganda tentang perang di timur tengah. Atau film-film keluaran Hollywood yang selalu mendiskreditkan wilayah Timur Tengah sebagai wilayah yang jahat dan penuh kebengisan. Media disatu sisi bisa menjadi kuda hitam demokrasi tetapi disisi lain bisa menjadi titik noda hitam demokrasi.

Dalam tradisi normative menurut Harold D. Lasswell dikatakan bahwa media mempunyai beberapa peran. Pertama, media menjadi menyediakan informasi tentang lingkungan dalam arti menjadi alat untuk mengawasi llingkungan (surveillance of the environment). Dalam peran ini, media menjadi mediator yang kuat dalam masyarakat tentang apa saja yang ada didalamnya. Keterbukaan informasi menjadi hal yang penting. Sehingga masyarakat ikut berpartisipasi didalamnya. Kedua, media menghubungkan bagian-bagian dalam masyarakat (correlation of the part of society). Kerekatan social adalah hal yang penting dalam suatu masyarakat. Media massa bisa mempelopori peran tersebut. Media memberikan informasi yang membangun harapan dan memberikan inspirasi akan kerekatan social. Ketiga, media mengirimkan warisan sosial (transmission of social heritage). Transformasi pengetahuan dan sains menjadi salah satu peran yang cukup signifikan. Dalam Keempat, media memberikan hiburan (to entertainment).

Peran – peran yang disampaikan oleh Lasswell adalah idealitas sosok komunikasi dalam praktik yang luas. Setidaknya kita bisa meminjam untuk menganalisis dan memberikan pedoman tentang bagaimana berkomunikasi secara santun. Apalagi dalam konteks demokrasi, kebebasan informasi dan berbicara adalah hal yang biasa. Tetapi tetap ada panduan yang baik untuk mendukung demokrasi menjadi lebih beradab dan memberi kemaslahatan bagi masyarakat.

Media dan konflik

Perang menjadi bagian yang tidak pernah hilang dalam sejarah manusia. Konflik menjadi hal yang secara harfiah adalah sebuah kebiasaan. Dalam terminology Marxis, konflik adalah keniscayaan. Maka manusia tidak bisa lepas dari konflik. Karena tidak ada manusia yang tidak berkonflik. Nah, karena konflik tidak bisa hilang, maka setidaknya konflik seharusnya dikurangi atau diminimalisir.

Mengurangi konflik berarti bukan hanya melihat dari aspek politik, ekonomi dan social budaya semata. Tetapi perlu diperhatikan juga dari aspek komunikasi massa, dalam hal ini adalah media massa. Kita mafhum bahwa kehadiran media massa adalah keniscayaan yang tidak bisa dielakkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pada itu, isi media menjadi penting untuk ditelaah secara baik. Karena apapun medianya isi media adalah kreasi manusia yang didalamnya juga mempunyai banyak kepentingan.

Media massa dalam kasus konflik kemudian banyak digunakan untuk propaganda salah satu pihak. Hal ini menjadi berbahaya, karena media massa kemudian menyebarkan ide-ide kebencian yang bisa merusak pemahaman kelompok lain. Media menjadi bagian dari propaganda penyebaran kebencian. Komodifikasi media dalam konflik menjadi salah satu topic yang penting untuk dibahas pada tahun-tahun belakangan.

Elie Wiesel mengatakan bahwa kebencian yang ditujukan kepada kelompok-kelompok yang berbeda secara cultural adalah persoalan utama abad ke duapuluh. Konflik yang muncul pada abad ke dua puluh sampai sekarang didominasi oleh kebencian terhadap kelompok lain. Konflik dalam bentuk antar bangsa, antar suku, antar agama, dan juga konflik rasial lebih banyak didominasi karena kebencian.

Lalu dimanakah media berperan dalam mengurangi konflik? Media mempunyai posisi yang kuat dalam membangun pengetahuan kognisi, sikap dan tindakan publiknya. Dalam posisi ini media bisa dengan leluasa menempatkan ide-ide tentang perdamaian sebagai titik tolak semua isinya. Johan Galtung salah satu tokoh perdamaian dan resolusi konflik mengatakan bahwa konflik bisa diselesaikan dengan pendekatan satu dengan satu (one on one approach), dialog, luaran (what is the outcomes). Pendekatan yang ditawarkan Galtung adalah pendekatan yang keluar dari pendekatan konvensional yang selama ini digunakan. Dengan one on one, Galtung menjelaskan bahwa akan lebih faham setiap manusia memahami tentang empati, bukan sekedar duduk bersama dan bukan sekedar penyelesaian secara elit semata. Dialog menekankan kepada penyelidikan secara mutual (bersama). Penyelidikan secara bersama akan memberikan kontribusi kepada aspek-aspek untuk saling mengisi terhadap kekurangan dari masing – masing pihak.  Sehingga dari dialog diharapkan akan menghasilkan outcomes (luaran) yang bisa diterima oleh kedua pihak. Dalam pendekatan ini

Bad news is not good news

Proses penyelesaian konflik atau pencegahan konflik bisa dikembangkan dari berbagai macam aspek. Termasuk didalamnya melalui media massa. Selama ini jurnalis dididik untuk dengan pemahaman bahwa “bad news is a good news”. Dalam hal ini berita kesengsaraan manusia adalah menu utama dalam dunia jurnalisme.

Media punya peran penting dalam mengantarkan pesan. Kesalahan dalam mengelola pesan bisa melahirkan pemahaman yang berbeda pula. Maka adab berkomunikasi juga menjadi penting bagi pengelola media. Selama ini media massa adalah rujukan yang masyarakat. Tetapi apakah media sudah dengan baik memberikan sajian informasi dan pesan kepada masyarakat? Inilah pertanyaan besar saat ini, dimana kebebasan informasi bisa juga menjadi boomerang kepada institusi media sendiri dan masyarakat. Banyak informasi yang palsu atau informasi yang rekaan adalah tantangan kita. Maka perlu pendidikan media literasi yang kuat kepada masyarakat dan jurnalis.

Salah satu usaha penting dalam membangun keadaban manusia adalah tata cara komunikasi yang santun dan saling menghormati. Komunikasi yang tidak mengandung kekerasan terhadap sesama. Apapun yang dilakukan manusia adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam tradisi yang santun dan saling menghormati. Inilah tantangan bagi kita sebagai warga Indonesia yang dibesarkan dalam keragamaan masyarakat. Non violence communication!

Shared: