Memahami Design Thinking untuk PR yang Efektif

Design thinking menjadi bekal penting untuk merancang strategi public relations (PR). Sebab lewat design thinking, seorang PR consultant dapat memahami kebutuhan klien lebih akurat dan sesuai keinginan. Demikian salah satu poin diskusi yang mengemuka di kuliah perdana Praktikum PR 1 bertajuk From Insight to Impact: Applying Design Thinking to Understand Client Needs, Jumat (14/02/2025). Kuliah diikuti ratusan mahasiswa praktikan dengan menghadirkan praktisi sebagai narasumber, Andi Afrilliya Ani. Alumni Komunikasi UMM yang akrab dipanggil Lia ini adalah Marketing Communication dan Event Manager Hutan Cempaka Foundation. Ia memberi insight penting bagi mahasiswa Komunikasi UMM dalam merancang komunikasi efektif didampingi dosen pengampu praktikum Dr Frida Kusumastuti dan Maharina Novia Zahroh, MA. Lia mengurai ada lima tahapan utama dalam design thinking, yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test. Menurutnya penting untuk bisa memahami kebutuhan pengguna melalui observasi dan wawancara yang mendalam sebelum merancang solusi yang inovatif dan relevan. “Pendekatan design thinking membantu kita memahami kebutuhan klien secara mendalam dan menciptakan strategi komunikasi yang berdampak signifikan,” ungkapnya. Ia juga menunjukkan keahliannya dalam kolaborasi dan inovasi saat bekerja sama dengan Kebun Raya Purwodadi dalam menyelenggarakan event bertajuk “Bungah”. Acara buatannya itu bertujuan mengangkat potensi alam melalui kegiatan interaktif, seperti edukasi lingkungan dan berbagi pengalaman dengan masyarakat. Kesuksesan acara ini, lanjut Lia, tidak hanya membangun citra positif Kebun Raya Purwodadi. “Tetapi juga menunjukkan kemampuan seorang PR dalam manajemen acara, komunikasi strategis, serta membangun hubungan dengan berbagai pihak,” jelasnya. Frida mengatakan, melalui rangkaian kuliah dan praktikum seperti ini, Program Studi Ilmu Komunikasi UMM terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran inovatif yang menghubungkan teori dengan praktik. Dengan langkah ini, harapnya, mahasiswa memiliki wawasan luas dan kemampuan adaptif terhadap kebutuhan serta perkembangan terkini dalam industri komunikasi dan hubungan masyarakat. Kuliah perdana kali ini dirancang untuk membekali praktikan untuk menyelesaikan tugas praktikum pertamanya selama satu semester ini. Mereka diberi pemahaman mengenai penerapan pendekatan design thinking dalam merancang strategi komunikasi yang efektif. (des)
The Art of Storytelling, Pikat Praktikan Event Management Public Relations

Mengelola sebuah event bukan hanya tentang teknis pelaksanaannya saja, tetapi juga tentang bagaimana event manager menyampaikan cerita yang kuat agar berkesan di benak audiens. Itulah topik Kuliah Perdana Praktikum Event Management, Jumat (14/02/2025) di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui kelas ini, ratusan mahasiswa peminatan Public Relations (PR) Program Studi Ilmu Komunikasi UMM belajar pentingnya storytelling dalam manajemen event. Tujuannya untuk memberi gambaran dasar sebagai bekal mahasiswa untuk menjalani praktikum berbasis real client di semester ini. Kuliah bertajuk The Art of Storytelling in Event Management ini menghadirkan Ahmad Faiz Firojabi, Founder Analogi Organizer yang juga seorang alumni sukses Komunikasi UMM sebagai narasumber. Faiz menekankan ada tiga hal utama dalam menyusun sebuah event yang tepat. Tiga hal itu adalah memahami product knowledge, target audiens, dan permasalahan yang dihadapi klien. “Jika kalian bisa memahami ketiga aspek ini, maka menentukan konsep event yang sesuai akan menjadi jauh lebih mudah,” jelasnya. Selain tiga hal itu, ia juga menyoroti pentingnya key message dalam setiap event. Menurutnya, keberhasilan suatu event tidak hanya diukur dari pelaksanaan di hari H, tetapi juga dari strategi yang diterapkan setelah acara selesai. “After event harus menjadi bagian dari strategi utama. Perlu ada evaluasi untuk memastikan apakah pesan utama yang ingin disampaikan sudah diterima dan dipahami oleh audiens,” tambahnya. Dijelaskannya, event yang baik adalah yang berhasil mencapai tujuannya. Aspek legalitas seperti Memorandum of Understanding (MoU) juga penting untuk diperhatikan, meskipun budget event terbatas. “MoU dapat menghindarkan kita dari risiko yang tidak diinginkan dan memastikan semua pihak memahami perannya masing-masing,” ujar Faiz menutup sesi pemaparannya. Sementara itu, dosen koordinator praktikum Jamroji juga menekankan pentingnya publikasi dalam keberhasilan event. Event dikatakan sukses, kata Jamroji, ketika tujuannya tercapai dan partisipan mendapatkan informasi yang jelas melalui publikasi yang dilakukan. “Pastikan publikasi kalian unggul, karena itu adalah salah satu komponen nilai terpenting dalam praktikum ini,” tegasnya. Melalui kuliah perdana ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM diharapkan dapat memahami konsep event management secara lebih mendalam serta mampu merancang dan melaksanakan event yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki dampak positif bagi masyarakat. (lil/jan)
Kalau Bukan Karena Praktikum Komunikasi UMM, Mungkin Kampung Warna-Warni Jodipan Tidak Akan Pernah Ada

Siapa sangka, delapan tahun lalu ada sebuah wilayah perkampungan kumuh di bantaran Sungai Brantas Kota Malang. Namun, berkat ide brilian mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kampung tersebut disulap menjadi destinasi wisata ikonik yang mirip dengan kawasan Cinque Terre di Italia. Kampung itu dikenal sebagai Kampung Warna-Warni Jodipan. Kampung yang berada di pinggiran sungai Brantas kelurahan Jodipan ini merupakan hasil dari project praktikum mahasiswa Komunikasi UMM kelompok Guys Pro pada tahun 2016. Hari ini, Jumat (10/1/2025) ketua tim Nabila Firdausiyah kembali ke Komunikasi UMM membagikan pengalamannya itu saat Kuliah Tamu Public Relations bertajuk Unlocking Digital Strategies for Brand Growth di Malang Creative Center (MCC). Sambil mengingat-ingat project besarnya saat kuliah, alumni 2017 itu menjelaskan praktikum di Komunikasi UMM meskipun banyak tantangan merupakan bekal yang sangat cukup untuk menghadapi dunia kerja nantinya. “Kalau bukan karena praktikum, mungkin Kampung Warna-Warni Jodipan tidak akan pernah ada,” ungkapnya. Diceritakannya, di bawah arahan dosen praktikum public relations, Jamroji, Nabila bersama timnya mengajukan ide untuk menghidupkan kawasan kumuh itu melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) kepada klien produsen cat PT. Indiana. Menariknya, ide ini awalnya dirancang untuk meningkatkan kebersihan lingkungan. Akan tetapi berkat warna-warni cat yang memikat, kampung ini mulai viral di media sosial sebelum project selesai. Usai viral dan jadi topik hangat, sampai-sampai Guys Pro dihadirkan dalam acara talkshow ternama di Indonesia, Kick Andy di Metrotv Jakarta. Tak hanya itu, beberapa media luar negeri juga pernah melakukan wawancara pada mereka. Berkat kisah suksesnya itu Nabila kebanjiran tawaran kerja. Saat ini dia memilih sebagai Assitant Brand Manager untuk brand kosmetik Implora. Tak lupa pada almamater, Nabila membawa perusahaannya untuk bekerja sama dengan Komunikasi UMM. Berkuliah di komunikasi itu, kata Nabila, prospek kerjanya luas dan tidak kaku. “Buktinya, aku bisa masuk ke tim branding karena banyak skill yang transferable dari PR ke dunia marketing,” katanya. Dirinya senang bisa kembali dan berbagi pengalaman. Nabila berpesan agar mahasiswa Komunikasi UMM selalu berani dalam mengambil peluang. “Percayalah, tidak ada yang tidak mungkin. Jangan puas hanya dengan apa yang ada di sekitar, cari ilmu sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber,” pesannya. Sekretaris Prodi Komunikasi UMM, Jamroji mengatakan kerja sama dengan Implora merupakan bentuk kolaborasi positif antara kampus dengan alumninya. Alumni-alumni yang sukses biasanya membawa perusahaannya untuk bekerja sama, salah satunya sebagai tempat magang atau praktikum mahasiswa. “Sudah ratusan perusahaan yang menjadi mitra praktikum baik untuk peminatan PR, jurnalistik maupun audio visual. Ini membuktikan bahwa Komunikasi UMM tidak hanya kuat di teori, tapi juga di skill dan jejaring yang dibutuhkan di dunia kerja,” ungkap Jamroji. (jan)