International Guest Lecture bertajuk Media and Social Change menjadi wadah berdiskusi merujuk pada tantangan baru di tengah perkembangan teknologi saat ini. Komunikasi memberikan ruang belajar yang dikemas dalam Kuliah Tamu pada Rabu (4/6/2025) yang bertempat di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Tema menarik yang dibahas merujuk pada fenomena sosial media saat ini. Media sosial bukan hanya ruang berekspresi, lebih dari itu, kini telah menjadi ruang informasi bagi generasi muda. Banyak kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial yang terkadang membuat lupa bahwa ada echo chamber dan filter bubble yang bisa menjadi ancaman. Fenomena di mana algoritma media sosial akan menyaring berdasarkan preferensi pengguna.
Pada kuliah tamu kali ini, terdapat tiga dosen senior dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Melaka Malaysia diundang sebagai pembicara yaitu Ts Hj. Mohd. Hilmi Bin Bakar, Ilya Yasnorizar binti Ilyas, dan Rosilawati binti Sultan Mohideen. Ketiganya memberikan perspektif yang berbeda kepada ratusan mahasiswa Komunikasi UMM untuk melihat dominasi media sosial dalam membentuk opini publik dan mengubah pola komunikasi masyarakat global.
Ts Hj. Mohd. Hilmi Bin Bakar, salah satu guest lecture membuka diskusi dengan materi berjudul Echo Chamber and Society: Free to Speak or Trapped in a Bubble menyoroti bagaimana algoritma media sosial menciptakan sebuah ruang dalam diri penggunanya. Hal tersebut didapat dari riwayat pencarian dan interaksi pengguna, sehingga pengguna hanya akan terpapar informasi yang sesuai dengan pandangan mereka.
Echo chamber adalah ruang yang menutup diri dari sudut pandang lain, seseorang hanya akan menerima informasi yang akan memperkuat keyakinan mereka. “Media sosial memberi kesan seolah-olah semua orang punya kebebasan bicara, padahal secara tidak sadar, kita hanya berada dalam gelembung informasi yang memperkuat bias kita,” jelas Hilmi.
Hilmi juga menekankan pentingnya literasi media sebagai solusi untuk keluar dari jebakan echo chamber, khususnya melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis dan membuka diri terhadap beragam perspektif. Echo Chamber juga memiliki pengaruh besar terhadap polarisasi masyarakat dan penyebaran informasi palsu yang semakin mudah terjadi di era digital. Hilmi memberikan contoh pengalaman di WhatsApp grup keluarga yang sering kali menjadi arena pertentangan politik dan informasi hoaks yang tidak terverifikasi.
Selain itu, Hilmi juga membahas tentang fenomena filter bubble. Menurutnya, algoritma media sosial menyaring dan menampilkan konten sesuai preferensi pengguna, sehingga memperkuat echo chamber secara tidak sadar. Fenomena ini diperparah oleh teknologi AI yang mampu memanipulasi konten hingga terlihat sangat meyakinkan, termasuk dengan membuat video atau suara palsu (deepfake).
Sementara itu, Ilya Yasnorizar mengangkat tema seputar komunikasi nonverbal lintas budaya. Melalui topik yang dibawanya, Cross-Cultural Differences in Nonverbal Communication: Gestures, Eye Contact, and Personal Space, Ilya mengajak peserta memahami bahwa cara seseorang menatap mata, memberi isyarat, hingga menjaga jarak fisik bisa sangat berbeda antar budaya. “Kadang kita salah paham bukan karena bahasa, tapi karena ekspresi tubuh yang dimaknai berbeda. Apa yang dianggap sopan di satu budaya, bisa terasa ofensif di budaya lain,” ujar Ilya.
Ilya menegaskan bahwa pemahaman tentang perbedaan ini penting, terutama bagi mahasiswa komunikasi yang sering berinteraksi dengan beragam budaya, termasuk dalam kompetisi komunikasi internasional seperti ICC (International Communication Competition). Penting untuk bertanya langsung bila ada gestur atau bahasa tubuh yang membingungkan, sebagai bagian dari proses belajar dan adaptasi.
“Salah satu kunci utama dalam mengatasi kesalahpahaman nonverbal adalah rasa percaya diri dan keterbukaan untuk belajar dari perbedaan,” tuturnya.
Diskusi dilanjutkan oleh Rosilawati dengan materi bertajuk The Impact of Social Media on Malaysian Political Attitude. Ia memaparkan bagaimana media sosial memainkan peran besar dalam pembentukan sikap politik generasi muda di Malaysia, terlebih pasca pandemi dan meningkatnya konsumsi konten daring. “Media sosial menjadi senjata bermata dua. Satu sisi, ia membuka akses politik bagi anak muda. Namun disisi lain, ia juga rentan disusupi narasi yang memecah belah,” terang Rosilawati.
Rosilawati juga mengupas bagaimana media sosial memengaruhi sikap politik masyarakat Malaysia. Melalui presentasinya, Rosilawati menguraikan bagaimana konten yang bersifat emosional dan provokatif seringkali menjadi daya tarik utama di platform seperti Facebook dan TikTok, yang pada akhirnya memperkuat polarisasi politik.
Menurut Rosilawati, media sosial lebih mengutamakan engagement atau interaksi pengguna daripada kebenaran informasi. Hal ini menyebabkan banyak pengguna terjebak dalam filter bubble, yang mempersempit wawasan dan memperkuat bias politik. Terus meningkatkan literasi media dan kemampuan berpikir kritis guna menjadi agen perubahan yang positif dalam masyarakat adalah langkah bijak yang bisa dilakukan. “Sebagai mahasiswa komunikasi, kita harus paham bagaimana media sosial bekerja dan tidak mudah terpancing oleh konten yang belum tentu benar,” ujar Rosilawati.
Senada dengan solusi yang ditawarkan, Dosen Komunikasi UMM yang menjadi host dalam acara ini, Himawan Sutanto juga menyampaikan jika penting bagi mahasiswa untuk membuka cakrawala terhadap praktik dan isu komunikasi di negara lain. Kuliah tamu internasional ini menjadi bagian dari upaya Komunikasi UMM untuk memberikan pengalaman belajar lintas negara bagi mahasiswa.
“Melalui forum ini, kita belajar tidak hanya teori, tapi juga realita dari negara tetangga yang dekat secara geografis namun kaya perbedaan budaya dan pendekatan komunikasinya,” pungkas Himawan. (jan)