Kuliah Tamu Internasional, Komunikasi UMM Hadirkan Pakar Media dari Malaysia

International Guest Lecture bertajuk Media and Social Change menjadi wadah berdiskusi merujuk pada tantangan baru di tengah perkembangan teknologi saat ini. Komunikasi memberikan ruang belajar yang dikemas dalam Kuliah Tamu pada Rabu (4/6/2025) yang bertempat di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tema menarik yang dibahas merujuk pada fenomena sosial media saat ini. Media sosial bukan hanya ruang berekspresi, lebih dari itu, kini telah menjadi ruang informasi bagi generasi muda. Banyak kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial yang terkadang membuat lupa bahwa ada echo chamber dan filter bubble yang bisa menjadi ancaman. Fenomena di mana algoritma media sosial akan menyaring berdasarkan preferensi pengguna. Pada kuliah tamu kali ini, terdapat tiga dosen senior dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Melaka Malaysia diundang sebagai pembicara yaitu Ts Hj. Mohd. Hilmi Bin Bakar, Ilya Yasnorizar binti Ilyas, dan Rosilawati binti Sultan Mohideen. Ketiganya memberikan perspektif yang berbeda kepada ratusan mahasiswa Komunikasi UMM untuk melihat dominasi media sosial dalam membentuk opini publik dan mengubah pola komunikasi masyarakat global. Ts Hj. Mohd. Hilmi Bin Bakar, salah satu guest lecture membuka diskusi dengan materi berjudul Echo Chamber and Society: Free to Speak or Trapped in a Bubble menyoroti bagaimana algoritma media sosial menciptakan sebuah ruang dalam diri penggunanya. Hal tersebut didapat dari riwayat pencarian dan interaksi pengguna, sehingga pengguna hanya akan terpapar informasi yang sesuai dengan pandangan mereka. Echo chamber adalah ruang yang menutup diri dari sudut pandang lain, seseorang hanya akan menerima informasi yang akan memperkuat keyakinan mereka. “Media sosial memberi kesan seolah-olah semua orang punya kebebasan bicara, padahal secara tidak sadar, kita hanya berada dalam gelembung informasi yang memperkuat bias kita,” jelas Hilmi. Hilmi juga menekankan pentingnya literasi media sebagai solusi untuk keluar dari jebakan echo chamber, khususnya melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis dan membuka diri terhadap beragam perspektif. Echo Chamber juga memiliki pengaruh besar terhadap polarisasi masyarakat dan penyebaran informasi palsu yang semakin mudah terjadi di era digital. Hilmi memberikan contoh pengalaman di WhatsApp grup keluarga yang sering kali menjadi arena pertentangan politik dan informasi hoaks yang tidak terverifikasi. Selain itu, Hilmi juga membahas tentang fenomena filter bubble. Menurutnya, algoritma media sosial menyaring dan menampilkan konten sesuai preferensi pengguna, sehingga memperkuat echo chamber secara tidak sadar. Fenomena ini diperparah oleh teknologi AI yang mampu memanipulasi konten hingga terlihat sangat meyakinkan, termasuk dengan membuat video atau suara palsu (deepfake). Sementara itu, Ilya Yasnorizar mengangkat tema seputar komunikasi nonverbal lintas budaya. Melalui topik yang dibawanya, Cross-Cultural Differences in Nonverbal Communication: Gestures, Eye Contact, and Personal Space, Ilya mengajak peserta memahami bahwa cara seseorang menatap mata, memberi isyarat, hingga menjaga jarak fisik bisa sangat berbeda antar budaya. “Kadang kita salah paham bukan karena bahasa, tapi karena ekspresi tubuh yang dimaknai berbeda. Apa yang dianggap sopan di satu budaya, bisa terasa ofensif di budaya lain,” ujar Ilya. Ilya menegaskan bahwa pemahaman tentang perbedaan ini penting, terutama bagi mahasiswa komunikasi yang sering berinteraksi dengan beragam budaya, termasuk dalam kompetisi komunikasi internasional seperti ICC (International Communication Competition). Penting untuk bertanya langsung bila ada gestur atau bahasa tubuh yang membingungkan, sebagai bagian dari proses belajar dan adaptasi. “Salah satu kunci utama dalam mengatasi kesalahpahaman nonverbal adalah rasa percaya diri dan keterbukaan untuk belajar dari perbedaan,” tuturnya. Diskusi dilanjutkan oleh Rosilawati dengan materi bertajuk The Impact of Social Media on Malaysian Political Attitude. Ia memaparkan bagaimana media sosial memainkan peran besar dalam pembentukan sikap politik generasi muda di Malaysia, terlebih pasca pandemi dan meningkatnya konsumsi konten daring. “Media sosial menjadi senjata bermata dua. Satu sisi, ia membuka akses politik bagi anak muda. Namun disisi lain, ia juga rentan disusupi narasi yang memecah belah,” terang Rosilawati. Rosilawati juga mengupas bagaimana media sosial memengaruhi sikap politik masyarakat Malaysia. Melalui presentasinya, Rosilawati menguraikan bagaimana konten yang bersifat emosional dan provokatif seringkali menjadi daya tarik utama di platform seperti Facebook dan TikTok, yang pada akhirnya memperkuat polarisasi politik. Menurut Rosilawati, media sosial lebih mengutamakan engagement atau interaksi pengguna daripada kebenaran informasi. Hal ini menyebabkan banyak pengguna terjebak dalam filter bubble, yang mempersempit wawasan dan memperkuat bias politik. Terus meningkatkan literasi media dan kemampuan berpikir kritis guna menjadi agen perubahan yang positif dalam masyarakat adalah langkah bijak yang bisa dilakukan. “Sebagai mahasiswa komunikasi, kita harus paham bagaimana media sosial bekerja dan tidak mudah terpancing oleh konten yang belum tentu benar,” ujar Rosilawati. Senada dengan solusi yang ditawarkan, Dosen Komunikasi UMM yang menjadi host dalam acara ini, Himawan Sutanto juga menyampaikan jika penting bagi mahasiswa untuk membuka cakrawala terhadap praktik dan isu komunikasi di negara lain. Kuliah tamu internasional ini menjadi bagian dari upaya Komunikasi UMM untuk memberikan pengalaman belajar lintas negara bagi mahasiswa. “Melalui forum ini, kita belajar tidak hanya teori, tapi juga realita dari negara tetangga yang dekat secara geografis namun kaya perbedaan budaya dan pendekatan komunikasinya,” pungkas Himawan. (jan)
Energi Baru, Dosen Komunikasi UMM Raih Doktor Bidang Komunikasi Keluarga

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperoleh energi baru. Salah satu dosennya, Winda Hardyanti meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Sebelas Maret (UNS). Winda dinyatakan sebagai Doktor ke-16 yang dilahirkan oleh FISIP UNS. Tak hanya itu, ia juga dinyatakan sebagai wisudawan terbaik FISIP pada gelaran Wisuda UNS Periode IV/2025 dengan IPK 3,92 dan masa studi 3 tahun 3 bulan. “Alhamdulillah. Sangat bersyukur karena bisa menuntaskan studi dengan baik dan termasuk cepat,” ungkap Winda Bangga. Kebanggaan Winda berlipat mengingat almamater UNS baru saja dinobatkan sebagai universitas peringkat ke-3 terbaik di Indonesia versi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2025. Lulusan S2 Sosiologi UMM dan S1 Komunikasi Unair ini mengaku bisa membuka cakrawala baru lewat studinya kali ini. Selama masa studinya itu, Winda belajar lebih dari sekedar teori. “Studi ini membuka cakrawala baru untuk memahami komunikasi sebagai ruang kemanusiaan,” ujar dosen yang konsen di bidang komunikasi keluarga itu. Bukan tanpa perjuangan, perjalanan studinya juga menghasilkan output membanggakan di level internasional. Salah satunya adalah publikasi terindeks Scopus Q2 yang diraihnya selama masa studi. Passionnya pada kajian komunikasi keluarga itu, khususnya dalam konteks adopsi anak, ia rasa semakin dalam berkat bimbingan para dosen selama masa S3. Buku pertama yang lahir dari pemikiran Winda, “Dari Ketidakpastian Menuju Harmoni”, menjadi buku ber-ISBN pertama di Indonesia tentang panduan kompetensi komunikasi bagi pasangan yang ingin mengadopsi anak. Buku saya ini, kata Winda, memperoleh antusiasme pembaca. “Alhamdulillah diminati para adopter parent dan juga pasutri yang lama tidak memiliki keturunan dan sedang merencanakan adopsi,” ujarnya. Proses adopsi di Indonesia bukan hanya tentang administratif, tapi juga emosional, sosial bahkan spiritual. Tidak berhenti di sana, Winda kini tengah menyiapkan buku keduanya melanjutkan kontribusi akademik dan sosialnya dalam bidang ini. Ia juga bertekad membangun komunitas supporting family untuk keluarga yang mengadopsi anak. Sebagai alumni UMM, tidak lain bahwa capaiannya ini ia persembahkan untuk almamaternya, Komunikasi UMM. Komunikasi UMM adalah rumah saya, “Saya ingin terus berkontribusi di bidang komunikasi interpersonal, serta memperbanyak publikasi internasional,” tegasnya bangga. (jan)
Awas Popcorn Brain! Kaprodi Komunikasi Ingatkan 4 Hal Ini

Saking banyaknya informasi yang masuk, otak sering tidak bisa menampung. Bagai jagung yang sedang dibikin menjadi popcorn dalam sebuah panci penggoreng, ia meletup-letup sehingga meluber ke mana-mana. Akibatnya, alih-alih menjadi nutrisi otak, fenomena pop corn brain justru mendistrak otak untuk bisa fokus. Demikian fenomena popcorn brain yang disampaikan Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nasrullah saat membuka acara Infinity 2025, Jumat (28/02/2025) di Aula GKB IV UMM. Menurutnya, konten-konten media sosial yang muncul secara algoritmik membuat anak muda gampang kemasukan informasi baik berupa ide baru, tips, motivasi, hingga hiburan yang meluber secara instan. Otak kadang tidak sempat menyeleksi mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka bahkan tidak tahu mana yang penting dan yang tidak penting. Semua masuk begitu saja, silih berganti secara cepat. Nasrullah mengingatkan, mahasiswa Komunikasi UMM harus kritis dan memiliki self determinant menghadapi fenomena ini. Diperlukan empat kemampuan yang disebutnya sebagai 4C. Yakni, critical thinking, creative, communicative, dan collaborative. Oleh karenanya mahasiswa harus bisa selektif menerima informasi. “Jangan gampang terbawa arus dan ikut-ikutan. Otak harus diajak berfikir kritis, dilatih menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan yang tepat,” tambahnya. Dijelaskannya, acara Ikom Fun Activity ini menjadi momen yang tepat bagi mahasiswa untuk mewujudkan 4C itu. Mahasiswa Komunikasi UMM harus bisa memanfaatkan momen semaksimal mungkin. Lewat Infinity ini mahasiswa dilatih untuk berkompetisi, tetapi harus mengedepankan kolaborasi. Ini menjadi jalan pertama untuk menggapai masa depan, “Jadi manfaatkan sebaik-baiknya, sebab tidak semua mahasiswa punya kesempatan terseleksi dalam kompetisi ini,” tandasnya. Acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom) UMM ini, dihelat sebagai ajang yang mewadahi minat dan bakat mahasiswa Komunikasi UMM. Menjadi tahun keempat, Infinity tahun ini berbeda dengan acara tahun lalu. Dari segi tema besar, kata Ketua Pelaksana Infinity Farel Arisandy Setyawati, “Tahun ini kita lebih sesuaikan dengan arah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM),” ujarnya. Oleh karenanya, kata Farel, saat rangkaian kegiatan opening diberikan sosialisasi PKM sebagai pengenalan, serta 15 mata perlombaan. Infinity tahun ini akan digelar hingga tanggal 19 April. Pemenangnya akan dikirim ke kompetisi tingkat fakultas dan universitas, bahkan ke luar. (jan)
Pentingnya Sinektika untuk Perencanaan Jurnalisme di Media Digital

Mengawali semester baru sekaligus sebagai persiapan praktikum pertama, puluhan mahasiswa Jurnalistik Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti kuliah perdana, Sabtu (15/02/2025) di Mini Teater Lab Komunikasi. Kuliah perdana bertajuk Synetics as a Creative Approach in Digital Media Planning ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan melatih kesiapan para praktikan untuk menyelesaikan mata kuliah praktikum pertama mereka. Para mahasiswa angkatan 2023 itu belajar sinektika dari pemateri yang juga seorang Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Binus University Erik Armayuda. Ikut mendampingi dan mengisi dosen koordinator praktikum Aditya Dwi Putra Bhakti. Erik menjelaskan sinektika sangat penting digunakan dalam perencanaan media digital. “Mulai dari strategi visual media planning hingga pengenalan sinektika untuk keperluan visual media,” jelasnya. Dijelaskannya, sinektika sangat relevan digunakan untuk menyelesaikan tantangan praktikum jurnalistik di Komunikasi UMM yang kali ini berfokus pada riset dan perencanaan media digital. Selain itu, menurut Erik sinektika dapat menggabunngkan antara metafora dan analogi. “Mudahnya sinektika dapat diartikan sebagai menggabungkan hal yang berbeda untuk menjadikan satu kesatuan,” terangnya. Dalam perancangan media digital, lanjut Erik, dibutuhkan keunikan tersendiri agar dapat menjadi pembeda antara hasil produksi yang dimiliki dengan kompetitor lainnya. “Maka dari itu perlunya strategi yang matang dan keunikan tersendiri pada setiap karya yang dihasilkan,” tambahnya. Dengan terselenggaranya kuliah perdana ini, praktikan dapat memiliki ide kreatif seperti tagline Komunikasi UMM; Creative, Communicative, Collaborative, dalam menempuh mata kuliah praktikum semester ini. (zhr/fza)
Selain Teknis AV, Film Butuh Seni Akting

Dalam dunia audio visual (AV) utamanya film selain teknis produksi, seni akting menjadi salah satu hal yang penting untuk mencapai kedalaman pesan yang ingin disampaikan oleh sineas. Sabtu lalu, (15/02/2025) ratusan praktikan Audio Visual (AV) 3 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mempelajari secara lebih dalam topik tersebut. Mereka belajar bagaimana pentingnya pemahaman karakter, teknik, dan kolaborasi antara aktor dan sutradara dalam menciptakan film berkualitas tinggi yang memikat penonton. Pemateri yang juga Direktur Act School Malang Muhammad Leo Zaeni mengajak para praktikan berdialog masalah seni akting. “Seni akting dalam film merupakan bentuk ekspresi kreatif yang menghidupkan karakter dalam sebuah cerita melalui teknik dan keterampilan untuk menyampaikan emosi, perasaan, serta Tindakan,” kata Leo memantik. Lebih dari sekadar berbicara dialog, lanjut Leo, seni akting menuntut pemahaman mendalam tentang latar belakang dan motivasi karakter serta hubungan mereka dengan karakter lain. Selain akting, Leo juga menyampaikan pentingnya pera sutradara dalam menentukan kualitas sebuah film. Dalam hal ini sutradara memiliki peran saat proses casting dan pengembangan akting aktor. “Akting yang kuat dapat mengangkat sebuah film menjadi lebih dari sekadar hiburan, menjadi karya seni yang menyentuh hati dan menginspirasi,” ujar Leo. Kuliah perdana ini menjadi kelas pengenalan mahasiswa AV Angkatan 2022 dalam memahami secara mendalam seni akting untuk menunjang projek film yang akan dikerjakan mereka selama satu semester. (sgt)
Berbagi Pengalaman Produksi Konten Kreatif dengan Praktisi

Kuliah perdana praktikum Audio Visual (AV) 1 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menandai dimulainya perjalanan mahasiswa angkatan 2023 dalam memahami proses kreatif produksi konten media berbasis audio visual. Berlangsung secara daring, Sabtu (15/02/2025), kuliah bertajuk Promotion Strategies for TV Programs in The Digitals Era: Buliding Identity and Creating Engagement ini bertujuan untuk memberikan pengenalan mendalam tentang proses produksi konten kreatif, mulai dari tahap pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi. Tak hanya sekedar belajar, mahasiswa mendapatkan wawasan langsung dari praktisi ahli di bidang media dan produksi konten. Mereka membagikan pengalaman serta strategi dalam menciptakan konten yang relevan dan berdaya saing di era digital. Pemateri kuliah adalah Bayu Adi Prabowo, praktisi yang kini tengah berkarier menjadi Motion Designer Promotion Department, RCTI. Dengan pemahaman yang lebih luas mengenai produksi konten audio visual yang disampaikan langsung oleh praktisi berpengalaman, mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan karya yang tidak hanya berkualitas tetapi juga memiliki nilai jual di industri kreatif. Dosen koordinator praktikum Rahadi mengatakan jika praktikum ini adalah langkah awal bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan teknis mereka dalam produksi konten media. “Kami berharap mahasiswa dapat memahami pentingnya kreativitas dan kolaborasi dalam menghasilkan karya yang berkualitas,” ujarnya. Acara ini diharapkan dapat menjadi landasan kuat bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja di industri media dan komunikasi. Dengan pendekatan praktis yang didukung oleh fasilitas lengkap di Laboratorium Audio Visual UMM, mahasiswa akan memiliki pengalaman langsung yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. (bar)
Memahami Design Thinking untuk PR yang Efektif

Design thinking menjadi bekal penting untuk merancang strategi public relations (PR). Sebab lewat design thinking, seorang PR consultant dapat memahami kebutuhan klien lebih akurat dan sesuai keinginan. Demikian salah satu poin diskusi yang mengemuka di kuliah perdana Praktikum PR 1 bertajuk From Insight to Impact: Applying Design Thinking to Understand Client Needs, Jumat (14/02/2025). Kuliah diikuti ratusan mahasiswa praktikan dengan menghadirkan praktisi sebagai narasumber, Andi Afrilliya Ani. Alumni Komunikasi UMM yang akrab dipanggil Lia ini adalah Marketing Communication dan Event Manager Hutan Cempaka Foundation. Ia memberi insight penting bagi mahasiswa Komunikasi UMM dalam merancang komunikasi efektif didampingi dosen pengampu praktikum Dr Frida Kusumastuti dan Maharina Novia Zahroh, MA. Lia mengurai ada lima tahapan utama dalam design thinking, yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test. Menurutnya penting untuk bisa memahami kebutuhan pengguna melalui observasi dan wawancara yang mendalam sebelum merancang solusi yang inovatif dan relevan. “Pendekatan design thinking membantu kita memahami kebutuhan klien secara mendalam dan menciptakan strategi komunikasi yang berdampak signifikan,” ungkapnya. Ia juga menunjukkan keahliannya dalam kolaborasi dan inovasi saat bekerja sama dengan Kebun Raya Purwodadi dalam menyelenggarakan event bertajuk “Bungah”. Acara buatannya itu bertujuan mengangkat potensi alam melalui kegiatan interaktif, seperti edukasi lingkungan dan berbagi pengalaman dengan masyarakat. Kesuksesan acara ini, lanjut Lia, tidak hanya membangun citra positif Kebun Raya Purwodadi. “Tetapi juga menunjukkan kemampuan seorang PR dalam manajemen acara, komunikasi strategis, serta membangun hubungan dengan berbagai pihak,” jelasnya. Frida mengatakan, melalui rangkaian kuliah dan praktikum seperti ini, Program Studi Ilmu Komunikasi UMM terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran inovatif yang menghubungkan teori dengan praktik. Dengan langkah ini, harapnya, mahasiswa memiliki wawasan luas dan kemampuan adaptif terhadap kebutuhan serta perkembangan terkini dalam industri komunikasi dan hubungan masyarakat. Kuliah perdana kali ini dirancang untuk membekali praktikan untuk menyelesaikan tugas praktikum pertamanya selama satu semester ini. Mereka diberi pemahaman mengenai penerapan pendekatan design thinking dalam merancang strategi komunikasi yang efektif. (des)
The Art of Storytelling, Pikat Praktikan Event Management Public Relations

Mengelola sebuah event bukan hanya tentang teknis pelaksanaannya saja, tetapi juga tentang bagaimana event manager menyampaikan cerita yang kuat agar berkesan di benak audiens. Itulah topik Kuliah Perdana Praktikum Event Management, Jumat (14/02/2025) di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui kelas ini, ratusan mahasiswa peminatan Public Relations (PR) Program Studi Ilmu Komunikasi UMM belajar pentingnya storytelling dalam manajemen event. Tujuannya untuk memberi gambaran dasar sebagai bekal mahasiswa untuk menjalani praktikum berbasis real client di semester ini. Kuliah bertajuk The Art of Storytelling in Event Management ini menghadirkan Ahmad Faiz Firojabi, Founder Analogi Organizer yang juga seorang alumni sukses Komunikasi UMM sebagai narasumber. Faiz menekankan ada tiga hal utama dalam menyusun sebuah event yang tepat. Tiga hal itu adalah memahami product knowledge, target audiens, dan permasalahan yang dihadapi klien. “Jika kalian bisa memahami ketiga aspek ini, maka menentukan konsep event yang sesuai akan menjadi jauh lebih mudah,” jelasnya. Selain tiga hal itu, ia juga menyoroti pentingnya key message dalam setiap event. Menurutnya, keberhasilan suatu event tidak hanya diukur dari pelaksanaan di hari H, tetapi juga dari strategi yang diterapkan setelah acara selesai. “After event harus menjadi bagian dari strategi utama. Perlu ada evaluasi untuk memastikan apakah pesan utama yang ingin disampaikan sudah diterima dan dipahami oleh audiens,” tambahnya. Dijelaskannya, event yang baik adalah yang berhasil mencapai tujuannya. Aspek legalitas seperti Memorandum of Understanding (MoU) juga penting untuk diperhatikan, meskipun budget event terbatas. “MoU dapat menghindarkan kita dari risiko yang tidak diinginkan dan memastikan semua pihak memahami perannya masing-masing,” ujar Faiz menutup sesi pemaparannya. Sementara itu, dosen koordinator praktikum Jamroji juga menekankan pentingnya publikasi dalam keberhasilan event. Event dikatakan sukses, kata Jamroji, ketika tujuannya tercapai dan partisipan mendapatkan informasi yang jelas melalui publikasi yang dilakukan. “Pastikan publikasi kalian unggul, karena itu adalah salah satu komponen nilai terpenting dalam praktikum ini,” tegasnya. Melalui kuliah perdana ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM diharapkan dapat memahami konsep event management secara lebih mendalam serta mampu merancang dan melaksanakan event yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki dampak positif bagi masyarakat. (lil/jan)
Tak Hanya Wartawan, Belajar Jurnalistik Bisa ke Mana Saja

Beberapa waktu lalu, banyak mahasiswa sempat dihebohkan dengan hasil survei yang menempatkan Jurnalistik sebagai jurusan paling disesali setelah lulus kuliah. Survei yang dilakukan platform pasar kerja di Los Angeles Zip Recruiter terhadap 1.500 mahasiswa di Amerika Serikat itu, menyebutkan jika gaji yang dianggap kurang serta sulitnya mendapatkan pekerjaan menjadi alasan utama penyesalan tersebut. Di tengah viralnya berita tersebut, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru membuktikan sebaliknya. Dengan pembelajaran yang balance antara teori dan praktik, mahasiswa Komunikasi UMM utamanya peminatan Jurnalistik telah dibekali dengan kurikulum yang relevan dengan industri modern. Hal ini mengemuka dalam Kuliah Perdana Praktikum Online Journalism di mini teater Lab Komunikasi UMM, Jumat (14/02/2025). Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, Benni Indo menjadi narasumber. Benni yang juga jurnalis Harian Surya dan Trubunnews.com ini yakin jika karier lulusan jurnalistik itu tidak sempit. “Bukan hanya wartawan, tapi masih banyak peluang lain yang masih bisa digali,” katanya. Menurutnya ilmu dan pengalaman jurnalistik mendukung pembuatan konten berkualitas di berbagai bidang. Jejaring luas merupakan keuntungan yang besar menjadi seorang jurnalis. “Dengan berpikir kritis, menjadi jurnalis adalah tahap di mana kamu bisa berkembang ke segala arah,” tegas Benni. Seperti misalnya beberapa politisi ternama seperti Putra Nababan hingga Menteri Komdigi Meutia Hafid adalah seorang jurnalis. Di dunia bisnis, lanjut Benni, lulusan jurnalistik juga bisa menjadi pengusaha. Dengan pengetahuan jurnalisme, kita tahu apa yang harus dilakukan agar publik memiliki kepercayaan pada informasi yang kita sebarkan. Dalam kelas kali ini, mahasiswa praktikum jurnalistik online mendapatkan insight baru untuk menunjang praktik mereka dalam membuat portal berita selama berlangsungnya praktikum Mahasiswa diajak untuk memahami karakteristik jurnalisme online yang berbeda dengan media cetak. Berita online cenderung lebih pendek karena audiens saat ini enggan membaca teks panjang. Kecepatan menjadi prioritas, meskipun akurasi tetap menjadi tantangan utama. Sementara itu, berita cetak lebih mengutamakan kedalaman informasi dengan proses verifikasi yang lebih matang. Selain itu, kuliah ini juga membahas pentingnya kekuatan visual dalam jurnalisme digital. Seiring dengan perkembangan teknologi, media saat ini semakin memprioritaskan konten visual yang menarik. Hal ini menjadi peluang bagi jurnalis muda untuk mengembangkan keterampilan multimedia. Di tengah sesi diskusi, beberapa mahasiswa pun mengungkapkan aspirasi karier mereka. Maura bercita-cita bekerja di industri media, Danu ingin berkarier di BUMN, sementara Nazla bercita-cita menjadi anchor dan reporter. Rara, yang sejak kecil ingin menjadi presenter, bertanya tentang tips sukses di bidang tersebut, sedangkan Mila lebih tertarik membangun perusahaan media dan bekerja di bidang customer relations. Dalam dunia jurnalistik, menulis adalah keterampilan utama yang membuka banyak peluang. Jurnalis yang mampu menulis dengan baik tidak hanya bisa menghasilkan berita berkualitas, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di berbagai bidang. Dosen Pengampu Praktikum Nasrullah mengatakan jurnalistik itu meniscayakan tiga elemen utama: news, media, dan publicness. Dengan memahami ketiganya, mahasiswa jurnalistik bisa berkembang ke berbagai sektor industri. Jadi tidak hanya bisa jadi wartawan saja, apalagi dunia kewartawanan saat ini makin meredup. Dikatakan Nasrullah, dunia jurnalistik itu sangat luas. “Bisa jadi Humas atau PR, content creator, copywriter, penulis naskah film, dan masih banyak lagi bidang yang bisa dieksplor,” jelasnya. Belajar jurnalistik juga modal besar untuk menjadi pemimpin dan politisi. Banyak jejak sejarah yang merekam jika tokoh-tokoh kemerdekaan berawal dari jurnalis. Seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Cokroaminoto, hingga Tan Malaka. Jadi tidak perlu cemas dengan hasil riset tersebut, lanjut Nasrullah, “Mahasiswa Jurnalistik Komunikasi UMM adalah calon sarjana yang siap menghadapi banyak bidang di dunia kreatif,” yakinnya. Beni menutup, sangat banyak peluang di luar sana dengan latar belakang ilmu komunikasi dengan konsentrasi jurnalistik. “Saat ini, informasi menjadi hal yang sangat penting. Kehidupan ini membutuhkan informasi,” pungkasnya. (jan/riz)
Komunikasi UMM Sebar Magang 40 Mahasiswa SCDC ke 22 Mitra

Tidak hanya pandai berteori, sekarang ini menjadi mahasiswa juga harus melek digital dan harus siap menghadapi tantangan dunia kerja di masa mendatang. Apalagi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi. Hal ini disampaikan Direktur Center of Excellence (CoE) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Damat saat melepas 40 mahasiswa program School of Creative Digital Communication (SCDC) Prodi Ilmu Komunikasi, Kamis (24/01/2025) di Aula GKB UMM. “Dunia Usaha dan Industri (Dudi) yang akan ditempati mahasiswa ini menjadi laboratorium untuk mempraktikkan teori yang sudah didapatkan selama satu semester,” tandasnya. Damat menambahkan jika program SCDC masuk CoE UMM yang paling banyak diminati. Pada batch ketiga ini, jumlah perusahaan yang disebutnya sebagai laboratorium itu bertambah dari 17 menjad 22 mitra, baik perusahaan swasta, BUMN, maupun institusi pemerintah. Mitra magang kali ini ialah Sosialoka, LSF Republik Indonesia, Kemendikdasmen, Diskominfo Kota Malang, CMLabs, BPS Papua Barat, Diskominfo Kabupaten Malang, EJSC Malang, Smartway, Gramedia Basuki Rahmat, WOF Wooden, KLY, Arema Media, Uraga Malang, Radio Kosmonita, PT. Kosmetika Cantik Indonesia, PT Pelindo, Diaspora Cilacap, dan PROKOPIM Paser. Mahasiswa akan menjalani internship selama empat bulan. Koordinator CoE SCDC Arum Martikasari menyebut jika sebelum melaksanakan magang ini mereka telah dibekali teori yang cukup. “Mulai dari critical thinking, design thinking, sampai corporate culture dan problem solving. Sehingga mereka sudah benar-benar siap secara teori. Tinggal praktiknya saja,” jelasnya. Sama halnya Arum, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM Muslimin Machmud menilai jika beruntung menjadi mahasiswa yang bisa belajar banyak di luar kelas. Jadi saudara-saudara, katanya, “Punya pengalaman lapangan melakukan praktik di dunia kerja melalui berbagai perusahaan mitra yang ada,” jelasnya. Dijelaskannya, walaupun belajarnya di perguruan tinggi, bagi dunia industri tidak menilai calon pekerja dari hal itu. Tetapi harus mampu menunjukkan skill yang dibutuhkan. Nah Komunikasi UMM dengan akreditasi internasional, lanjut Muslimin, “Menuntut mahasiswanya untuk mampu bersaing dan mengungguli lulusan-lulusan dari kampus lain,” jelasnya. Sementara itu, saat memberi wejangan pada calon media sosial specialist itu, Ketua Prodi Komunikasi UMM yakin mahasiswanya adalah mahasiswa yang unggul. “Tidak hanya creative, communicative, collaborative. Mahasiswa Komunikasi UMM sudah pasti memiliki kemampuan critical thinking dan juga competitiveness,” jelas Nasrullah yakin mahasiswanya siap di adu dengan mahasiswa kampus lain. Kaprodi berpesan, agar mahasiswa magang memanfaatkan kemampuan media sosial secara maksimal di tempat magangnya. “Bukan hanya untuk branding, tapi social media juga for everything, yang positif dan produktif tentunya,” pesan Nasrullah. (jan)